Bebaskan Cita-citanya

Dokter, arsitek, insinyur, pegawai bank, ini adalah profesi yang kerap diinginkan para orangtua dari anak-anaknya. Akhir-akhir ini tak sedikit pula orangtua yang berharap anaknya terjun di dunia hiburan, entah sebagai penyanyi atau pemain sinetron. Tapi pernahkah Anda sebagai orangtua mendengarkan apa sebenarnya keinginan anak ?

Suatu hari Sutji mendapati putrinya, Talulla, yang kala itu berusia tiga tahun, sedang mencorat-coret tembok rumah. Tapi bukannya marah Sutji justru membiarkan putrinya meneruskan kegiatannya. ” Hasil gambar Talulla sangat bagus,” katanya.

Karena selalu mendapat dukungan dari kedua orangtuanya, Talulla (14) tumbuh menjadi anak yang menonjol di bidang seni. Salah satu prestasinya adalah memenangkan lomba puisi tentang lingkungan hidup saat ia duduk di kelas 3 SD dan mengantarkannya bertemu Presiden RI dan berkesempatan menjadi Menteri Lingkungan Hidup selama satu hari.

” Saya akui Talulla tidak menonjol di bidang matematika atau yang bersifat ilmiah lainnya, tapi saya bangga dengan minat dan kemampuannya di bidang seni,” kata Sutji. Saat ini Talulla kerap dimintai tolong teman-temannya untuk mendesain kaos atau busana. Ia juga berencana untuk masuk ke jurusan seni rupa setamatnya dari SMU nanti.

Erosi Identitas

Menurut psikolog remaja, Roslina Verauli, masa remaja merupakan masa sulit karena mereka sedang dalam proses pembentukan jati diri namun di sisi lain mereka berhadapan dengan norma dan nilai dari lingkungan di sekitarnya. ” Karena keterbatasan tersebut mereka merasa harus tampil sebagai orang lain. Situasi ini disebut dengan erosi identitas diri,” tuturnya.

Akibat dari erosi identitas diri tadi, banyak remaja yang kurang percaya diri dan ragu akan dirinya sendiri. ” Remaja yang punya potensi dan bakat terpaksa harus menyembunyikan potensinya karena takut dicap berbeda oleh lingkungannya,” kata Roslina.

Lantas, apa yang sebaiknya dilakukan orangtua agar anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan berani mengekspresikan dirinya?

1. Berhentilah membanding-bandingkan anak dengan yang lain. ” Membandingkan boleh saja tapi dengan perilaku baik yang dilakukan anak itu sendiri,” kata Roslina.

2. Stop mengkritik
Daripada mengkritik hasil kreativitas anak, lebih baik dukung apa yang dilakukannya.

3. Gali bakatnya
Gali bakat mereka dengan mencoba-coba berbagai kegiatan. ” Coba-coba boleh saja asalkan dibarengi dengan disiplin. Jika kegiatan tersebut tidak ada perkembangan atau prestasi, berarti anak memang tidak berbakat di bidang itu,” imbuh Roslina.

4. Ciptakan cita-cita sendiri
Bantu anak untuk melihat ada banyak profesi lain di dunia ini. Di akhir pekan, daripada ke mall sesekali ajak anak mengunjungi museum atau kantor orangtuanya.

5. Ngobrol dengan anak
Jadilah partner yang seimbang untuk anak dengan cara menciptakan komunikasi dua arah. Sudah bukan jamannya lagi bersikap kaku dan otoriter dalam mendidik anak.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: