Anak-anak Introvert, Bermasalahkah ?

Teti (40 tahun) kerap uring-uringan melihat tingkah laku anaknya, Rangga (11) yang dianggapnya misterius. Sejak masuk bangku SD yang dilakukan Rangga pulang sekolah adalah cuci tangan, makan, langsung masuk kamar. Ketika diintip, Rangga asyik membaca buku atau mengotak-atik komputer. Teman Rangga bisa dihitung jari. Yang sering main ke rumah hanya Arden. Biasanya mereka berdua main catur atau basket.

Sungguh berbeda dengan kakak dan adiknya yang selalu meriah. Selin (9) setiap pulang sekolah menceritakan semua kejadian. Tersandung batu pun pasti cerita. Hal serupa dilakukan Andy (13), kakak Rangga dengan ekspresif mencerita setiap pertandingan sepak bola. ” Maunya apa sih anak ini? Lihat dong kakakmu menjadi ketua OSIS, berani tampil ke depan. Nggak seperti kamu ngurung terus di kamar, ” kata Tety. Sering mendapat ” ceramah ” dari ibunya, Rangga semakin mengunci kamar.

Salahkah Rangga? Menurut Psikolog Indri Savitri MPsi, introvert adalah sifat bawaan/dasar dari seseorang yang tertutup lebih senang menstimulasi atau berdialog dengan dirinya sendiri. ” Sifat ini tidak negatif dan tidak merugikan, ” katanya. Berbeda dengan ekstrovert yang lebih senang mendapat energi dari lingkungan luar. Ciri dari introvert di antaranya lebih tenang, senang menyendiri. Mereka ini lebih menikmati kegiatan yang indoor seperti membaca buku, main komputer. Mereka kurang nyaman kalau berada di lingkungan yang banyak orang. Ketika berada di tempat umum/ramai, orang tertutup cenderung diam. Kalau tidak ditanya, tidak akan menjawab.

” Tapi, bukan berarti orang introvert ini tidak bisa bergaul. Mereka bisa bergaul dan menyenangkan, walaupun sebenarnya mereka lebih nyaman kalau bergaul secara person to person. Kelebihan anak introvert memiliki kecerdasan intrapersonal yang lebih tajam karena dia senang kontemplasi terhadap dirinya sendiri, ” papar Indri kepada Republika.

Ditandai sejak bayi
Anak-anak introvert, jelas Indri, tidak selamanya akan bungkam atau enggan bicara. Ada masa-masa dia akan bicara menceritakan hal-hal pribadinya. Tapi, ia tak bercerita kepada semua orang, hanya kepada orang tertentu. Itu pun jika ia yakin mengenali orang tersebut secara mendalam.

Sebenarnya sejak bayi, lanjut lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini, sudah bisa terlihat calon anak-anak introvert atau ekstrovert. Ada tiga karakter bayi, yaitu bayi mudah, di mana bayi tipe ini bertemu siapa pun akan tersenyum dan mudah diajak siapa pun (tidak menangis, red). ” Sudah kelihatan kalau bayi seperti ini besarnya cenderung ekstrovert, ” tambah Indri.

Ada juga bayi yang karakternya lambat, membutuhkan waktu untuk mengenal orang. Setelah satu jam digoda-goda, baru si bayi mau bermain. Terakhir, bayi yang karakternya sulit. Diajak main rewel, bertemu orang malah takut atau menangis. Karakter bayi seperti ini biasanya akan menjadi introvert. Bayi yang memiliki cikal bakal introvert akan semakin parah jika didukung lingkungan yang tertutup. Karena, kata psikolog anak dan remaja ini, faktor lingkungan lebih berperan membentuk seseorang dari pada karakter dasarnya.

Tapi, apakah anak-anak termasuk introvert atau ekstrovert baru bisa diketahui saat mereka masuk bangku sekolah. ” Anak masuk TK sudah kelihatan, ” ujarnya. Anak-anak ekstrovert, sepulang sekolah akan spontan menceritakan kegiatannya di sekolah. Sebaliknya anak-anak introvert akan diam saja. ” Mereka akan cerita, kalau ditanya berulang-ulang, ” kata Indri. Bisakah anak-anak introvert berubah menjadi ekstrovert?

Sebenarnya, lanjut Indri, anak introvert tidak harus diubah menjadi ekstrovert. Yang penting orang tua bisa mengarahkan dan mengolah diri si anak. Tapi, kalau kondisi anak sudah benar-benar menutup diri dan tidak bisa berinteraksi dengan siapa pun, berarti sudah berlebihan. ” Sebaiknya dibawa ke psikolog. ” Kepala Divisi Klinik dan Pelayanan Masyarakat Lembaga Psikolog Terapan UI ini menambahkan, anak-anak introvert pada akhirnya bisa juga membuka diri share terbuka kepada orang lain. Semua itu berdasarkan pengalaman yang dirasakan si anak tersebut. Jika dilakukan pendekatan yang intens dan sabar, perlahan mereka bisa terbuka.

Tapi, sebaliknya kalau pengalaman itu baginya tidak mengenakkan justru semakin memperparah sifat introvertnya. Misalnya, lingkungan keluarga telanjur mencap si anak tertutup. Misalnya, orangtua mengatakan, ” Memang kamu anak tidak bisa apa-apa. Suruh ke depan saja tidak berani ” . Dengan label seperti itu, ungkap Indri, anak akan semakin sulit berubah, malah semakin introvert.

Agar tetap bahagia
Semakin usia bertambah, semakin sulit lagi untuk mengubah si introvert agar lebih terbuka. Fase perkembangan di mana anak mudah dibentuk pada usia di bawah sembilan tahun. Kalau usia lebih dari sembilan tahun lingkungan semakin mendominasi, anak mulai protes atau memberontak.

Makanya, kata Indri Savitri, anak-anak introvert yang sudah SD, SMP, SMA akan lebih sulit diajak terbuka. Membutuhkan waktu dan proses membuat dia menjadi ekstrovert. Bayangkan saja seseorang yang dari kecil terbiasa tertutup, setelah usia remaja disuruh terbuka. Tentunya si anak tidak akan nyaman. Oleh karenanya, ” Membentuk anak itu sebaiknya sejak usia dini.

Kalau fase remaja baru dibentuk yang terjadi malah berantem terus. ” Indri menegaskan, yang terpenting bagi orangtua yang memiliki anak-anak introvert adalah harus bisa mengarahkan dan menjadikan anak-anak itu tetap bahagia. Orangtua harus banyak bertanya dan menggali agar anak itu mau bercerita. ” Cara menggalinya, jangan menginterogasi apalagi memaksa, ” katanya, ” Gali secara pelan-pelan dan sabar. ”

Pertanyaan yang diajukan pun bentuknya terbuka. Akan lebih pas, kalau pertanyaan itu diawali dengan hal-hal yang diminati oleh si anak. Orangtua juga perlu membangun ” sesuatu ” dari anak introvert. Yaitu menanamkan bahwa tidak selamanya ia melakukan apa pun seorang diri dan menanamkan bahwa ia membutuhkan lingkungan luar.

Indri mewanti-wanti para orangtua agar tidak meremehkan anak introvert. Sebab, mereka memiliki kecerdasan intrapersonal yang tajam kaena lebih suka berdialog dengan dirinya sendiri atau media tulisan. ” Dengan kekuatan ini, ” ujar Indri, ” orangtua bisa mengarahkan anak mengekspresikan dirinya melalui tulisan, menggambar atau lukisan. ”

Agar sejak dini anak bisa terbuka, Indri menyarankan orangtua agar mengajak anak bersosialisasi dengan lingkungan luar. Sejak bayi minimal mengadakan rutinitas mengajak bermain dengan usia sebayanya. Saat usia TK, SD biarkan bersosialisasi dengan teman-temannya. Mereka akan curhat, bercerita kepada teman-temannya. Orangtua tinggal mengarahkan. ” Kalau lingkungan tidak mendukung, orangtua mengajak anak janjian di mal dengan teman sekolahnya, ” saran Indri.

Semakin matang orang-orang introvert akan menyadari kalau keadaan ketertutupan itu kurang nyaman. Apalagi, bila ia sudah bekerja harus membuka jejaring yang luas. Agar bisa segera masuk lingkungan kerja tersebut, mau tak mau orang-orang introvert akan berupaya membuka diri tidak tertutup lagi. n vie/berbagai sumber

Ciri Umum Anak Introvert:
* suka membaca
* mempunyai sedikit teman, teman sejati
* tak aktif di dalam kelas
* pendengar yang baik
* suka di dalam kamar atau di ruang tertutup
* akan kecapaian bila seharian melakukan interaksi sosial di sekolah
* tak suka pekerjaan kelompok
* suka mengetahui apa yang diharapkan dari suatu kegiatan sebelum melakukannya
* merasa terhina bila melakukan kesalahan di depan umum.

Jangan …

* mencap anak tidak bisa bergaul.
* menganggap sebagai gangguan kepribadian.
* membanding-bandingkan dengan anak lain.
* membiarkan dengan cara tidak aktif membantu memperkenalkan dengan dunia luar.

(Berbagai Sumber)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: